Dilatasi dan Evakuasi (D&E)
Apabila ada kegawatdaruratan medis, tindakan aborsi dilakukan untuk menyelamatkan Ibu dan/ atau janinnya. Hal ini dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode dengan obat atau dengan operasi. Metode dengan obat dilakukan dengan memberikan obat yang merangsang kontraksi pada Rahim, yang kemudian kontraksi tersebut akan mengeluarkan janin keluar melalui vagina. Sedangkan dengan cara operasi, dilakukan dengan mengeluarkan janin dari Rahim dapat melalui vacuum (MVA) atau dengan dilatasi dan evakuasi, yaitu dengan melebarkan leher Rahim kemudian mengevakuasi janin keluar dari Rahim. Metode dilatasi dan evakuasi biasanya dilakukan pada usia lebih dari 4 bulan.
Dilatasi dan evakuasi, atau yang dikenal dengan singkatan D&E, merupakan prosedur bedah yang umum digunakan untuk tindakan aborsi pada usia kehamilan di atas 14 minggu. Metode ini menjadi standar medis karena tingkat keberhasilannya tinggi dan risikonya lebih rendah dibandingkan metode lain pada usia kehamilan trimester kedua.
Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, sebagian besar tindakan aborsi pada trimester kedua dilakukan dengan metode D&E. Dokter jarang memilih prosedur alternatif seperti aborsi induksi medis atau histerotomi karena metode tersebut memiliki risiko komplikasi dan morbiditas yang lebih besar bagi pasien.
Mengapa Dilatasi Serviks Diperlukan?
Pada usia kehamilan trimester kedua, volume jaringan di dalam rahim sudah lebih besar dibandingkan trimester pertama. Oleh karena itu, dokter perlu mempersiapkan leher rahim (serviks) sebelum tindakan dilakukan.
Proses pembukaan serviks secara bertahap sangat penting untuk:
Mengurangi risiko cedera serviks
Mencegah perforasi atau luka pada rahim
Memastikan alat medis dapat digunakan dengan aman dan efektif
Persiapan Serviks Sebelum Tindakan D&E
Dokter biasanya melakukan persiapan serviks beberapa jam sebelum prosedur utama. Salah satu metode yang sering digunakan adalah dilator osmotik, yaitu alat yang dimasukkan ke dalam serviks untuk membantu membuka leher rahim secara perlahan. Cara ini terbukti aman dan membantu menurunkan risiko komplikasi selama tindakan.
Selain itu, dokter juga dapat memberikan misoprostol, yaitu obat yang berfungsi melunakkan serviks. Obat ini umumnya diberikan beberapa jam sebelum tindakan melalui vagina atau secara bukal (diletakkan di antara gusi dan pipi). Dengan serviks yang lebih lunak, proses dilatasi mekanis menjadi lebih mudah dan aman.
Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat menggunakan mifepristone sebagai bagian dari persiapan sebelum D&E. Obat ini membantu meningkatkan efektivitas pembukaan serviks, terutama pada usia kehamilan yang lebih lanjut.
Proses Dilatasi dan Evakuasi
Setelah serviks terbuka dengan baik, dokter akan memulai prosedur D&E. Dalam tindakan ini, dokter menggunakan kombinasi alat hisap medis dan forsep khusus untuk mengangkat jaringan kehamilan dan jaringan desidua dari dalam rahim.
Untuk meningkatkan keamanan, dokter dapat menggunakan panduan ultrasonografi selama tindakan berlangsung. USG membantu memastikan alat berada pada posisi yang tepat serta membantu dokter bekerja dengan lebih presisi.
Setelah seluruh jaringan berhasil dikeluarkan, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim. Langkah ini sangat penting untuk mencegah perdarahan, infeksi, atau komplikasi lanjutan.
Keamanan dan Efektivitas Metode D&E
Dilatasi dan evakuasi merupakan prosedur yang aman apabila dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dan di fasilitas kesehatan yang sesuai. Dengan persiapan serviks yang tepat serta teknik yang benar, risiko komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.
Metode ini juga memungkinkan proses yang lebih cepat dan terkontrol dibandingkan prosedur alternatif pada usia kehamilan trimester kedua.
Dilatasi dan evakuasi (D&E) adalah metode aborsi medis yang telah lama digunakan dan terbukti efektif untuk kehamilan di atas 14 minggu. Dengan persiapan yang matang, penggunaan obat yang tepat, serta penanganan oleh dokter berpengalaman, prosedur ini dapat dilakukan secara aman dan bertanggung jawab sesuai indikasi medis.